X

Perbedaan Saham dan Obligasi dalam Akuntansi

Saham dan obligasi adalah hal yang sudah dipahami oleh para investor yang gemar berinvestasi. Sebagian besar orang membeli saham dan obligasi untuk disimpan agar mendapatkan keuntungan secara periodik berupa passive income pada masa depan. Keuntungan yang diperoleh pemegang saham jauh lebih besar daripada bunga deposito bank dan obligasi. Namun, ada juga sebagian orang yang mendapatkan keuntungan dengan membeli saham ketika harganya rendah dan menjualnya kembali saat harga saham naik.

Kenaikan atau penurunan harga saham suatu perusahaan bisa diprediksi dengan pemahaman prinsip prinsip akuntansi dan ekonomi tentang konsep supply and demand. Pengetahuan tentang kinerja perusahaan bisa menentukan harga saham perusahaan tersebut. Sedangkan pembeli obligasi mungkin lebih merasa diuntungkan karena perolehan keuntungan berjumlah tetap setiap tahun. Obligasi dinilai lebih aman dibandingkan saham karena bunga yang diterima setiap tahun sudah ditentukan. Sedangkan untuk saham, jumlah keuntungannya tidak pasti dan memiliki risiko yang lebih besar, yaitu perusahaan bangkrut.

Perbedaan saham dan obligasi sesuai standar akuntansi keuangan sebagai berikut.
1.  Saham

a.  Saham sebagai tanda bukti kepemilikan suatu perusahaan.

Orang yang memiliki saham suatu perusahaan berarti telah menanam modal dan mempunyai hak untuk mendapatkan keuntungan dari perusahaan tersebut sesuai konsep dasar akuntansi.

b.  Jangka waktu tidak terbatas.

Pemegang saham yang masih memiliki saham perusahaan berarti masih berhak atas keuntungan perusahaan dalam saham dan tidak tercantum tanggal kadaluwarsanya. Pemegang saham sebuah perusahaan bisa menjual atau menyimpan saham-sahamnya secara bebas tanpa batas waktu.

c.  Pemegang saham mendapat penghasilan berupa deviden.

Frekuensi pembagian deviden tidak menentu, artinya deviden dibagikan saat laba terjadi di suatu perusahaan. (baca: perbedaan rentabilitas dan profitabilitas)

d.  Dividen dibayar dari laba perusahaan.

Potensi laba perusahaan sulit ditaksir dan besarnya deviden yang dibagikan kepada pemegang saham tergantung besarnya laba perusahaan yang diperoleh pada suatu periode tertentu. Dividen adalah bagian dari laba perusahaan setelah dikurangi pajak yang harus dibayarkan sesuai manfaat akuntansi.

e.  Harga saham sangat fluktuatif dan sensitif terhadap kondisi makro dan mikro.

Harga saham di pasar tergantung kondisi perusahaan sehingga sering berubah-ubah (fluktuatif). Jika perusahaan semakin profit maka harga saham juga mengalami peningkatan dan demikian sebaliknya.

f.  Pemegang saham memiliki hak suara pada perusahaan (RUPS).

Pemegang saham bisa menentukan suara yang mungkin memengaruhi pengambilan keputusan para manajer atau pihak internal perusahaan lainnya. Jika terjadi likuidasi atau pembubaran perusahaan maka pemegang saham mempunyai klaim inferior, yakni bagian sisa-sisa hasil pembubaran. 

2.  Obligasi
a.  Obligasi adalah bukti pengakuan utang perusahaan kepada para pemilik obligasi.

Sesuai dengan namanya yang berasal dari obligation, artinya kewajiban sehingga perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar utang kepada orang yang memberikan utang. Pihak yang memberikan utang adalah orang yang membeli obligasi perusahaan.

b.  Jangka waktu terbatas.

Hari jatuh tempo obligasi ditentukan layaknya orang yang mengajukan utang sehingga ada batas kadaluwarsa pelunasan utang. Pemegang obligasi terbatas pada jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara perusahaan dan pemilik obligasi.

c.  Pemegang obligasi mendapatkan bunga tertentu dari obligasi.

Selain periode pembayaran telah ditetapkan, apapun keadaan perusahaan baik untung maupun rugi maka bunga dan pokok pinjaman wajib dibayar oleh perusahaan. Bunga obligasi dikeluarkan terlebih dahulu sebagai biaya sebelum pajak diperhitungkan.

d.  Harga obligasi relatif stabil.

Tingkat risiko obligasi lebih kecil daripada saham, tetapi sensitif terhadap tingkat bunga dan inflasi tanpa terpengaruh kondisi perusahaan sehingga dinilai lebih stabil dalam macam macam akuntansi.

e.  Pemegang obligasi tidak punya hak suara di perusahaan. 
Pemegang obligasi tidak bisa menentukan kesuksesan perusahaan karena tidak punya hak suara. Kalau terjadi likuidasi atau pembubaran perusahaan oleh para pemegang obligasi, berarti mereka memiliki klaim terlebih dahulu terhadap aset perusahaan. 

Setelah memahami tentang perbedaan saham dan obligasi dalam hakikat akuntansi tentu akan lebih mudah untuk mempelajari bidang bidang akuntansi dan tugas akuntansi keuangan lainnya.

Categories: Akuntansi Keuangan