Sponsors Link

Audit Operasional – Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup dan Jenis

Sponsors Link

Suatu bisnis atau organisasi menggunakan audit operasional untuk memeriksa secara seksama operasi internalnya. Berbeda dengan audit laporan keuangan, yang meneliti adanya kelengkapan dan akurasi suatu unsur-unsur laporan keuangan perusahaan. Sebelumnya artikel tentang pengertian audit serta perbedaan akuntansi dan auditing yang telah dijelaskan di awal, pemahaman tentang audit operasional terlengkap dapat dilihat di bawah ini.

ads

Pengertian Audit Operasional

Menurut Guy (2003), audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektivitasnya. Audit operasional kadang-kadang disebut audit kinerja, audit manajemen, atau audit komprehensif. Informasi yang terukur dalam audit operasional adalah banyaknya pencatatan transaksi keuangan yang diproses dalam satu bulan, biaya yang dikeluarkannya dan kesalahan-kesalahan yang terjadi. Contohnya adalah evaluasi untuk mengetahui apakah pemrosesan gaji pegawai dengan komputer pada PT. XYZ, berjalan secara efisien dan efektif.

Tujuan Audit Operasional 

Tujuan audit operasional adalah untuk meningkatkan efisiensi dan memungkinkan perusahaan memanfaatkan bahan dan sumber daya manusia (SDM). Tujuan audit operasional atas pengendalian internal adalah untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi dan membuat rekomendasi sesuai dengan tujuan akuntansi manajemen. Auditor operasional dapat menguji efektivitas prosedur verifikasi internal untuk duplikasi faktur penjualan guna memastikan bahwa perusahaan tidak merugikan konsumen dan juga untuk melakukan penagihan atas seluruh piutang.

Ruang Lingkup Audit Operasional 

Ruang lingkup audit operasional ditujukan pada seluruh pengendalian yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi, sedangkan ruang lingkup evaluasi pengendalian internal untuk audit keuangan dibatasi pada efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan dan dampaknya atas kewajaran penyajian jenis-jenis laporan keuangan. Misalnya, audit operasional dapat berfokus pada kebijakan dan prosedur yang dilakukan oleh departemen pemasaran untuk menentukan efektivitas katalog dalam pemasaran produk.

Jenis Audit Operasional

Audit operasional terlengkap terdiri atas tiga kategori utama, yaitu:

  1. Audit Fungsional

Yang dimaksud dengan fungsional adalah kategori aktivitas dalam suatu bisnis, misalnya fungsi penagihan atau fungsi produksi. Fungsi dapat dikategorikan dan dibagi dalam banyak cara. Misalnya, fungsi akuntansi dapat dibagi menjadi fungsi jurnal pengeluaran kas, jurnal penerimaan kas, dan penggajian. Fungsi penggajian dapat dibagi menjadi menjadi fungsi penetapan karyawan, pencatatan waktu, dan pembayaran gaji. Audit fungsional mengurusi satu atau lebih fungsi dalam suatu organisasi, misalnya mengenai efektivitas dan efisiensi fungsi penggajian untuk suatu organisasi secara keseluruhan.

Audit fungsional memiliki keuntungan bagi auditor untuk melakukan spesialisasi. Auditor tertentu berperan sebagai staf audit internal dalam mengembangkan keahlian dalam rekayasa produksi. Rekayasa produksi dapat berjalan lebih efektif dan efisien dengan menghabiskan waktu audit dalam area tersebut. Misalnya, fungsi rekayasa produksi berinteraksi dengan fungsi pabrikan dan fungsi lainnya dalam organisasi.

Sponsors Link

  1. Audit Organisasional

Audit operasional dalam organisasi mengurusi seluruh unit organisasi seperti departemen, cabang, atau anak perusahaan. Audit organisasional menekankan pada efektivitas dan efisiensi dalam interaksi fungsi akuntansi. Rencana organisasi dan metode untuk koordinasi aktivitas merupakan hal penting dalam audit ini.

  1. Penugasan Khusus

Dalam audit operasional, penugasan khusus muncul atas permintaan dari manajemen dengan bermacam-macam jenis audit. Fungsinya adalah untuk menentukan penyebab inefisiensi suatu akuntansi sebagai sistem informasi, meneliti kemungkinan kecurangan dalam divisi, dan membuat rekomendasi agar dapat mengurangi biaya produksi.

ads

Tahapan dalam Menjalankan Audit Operasional

Terdapat tiga fase dalam audit operasional, yaitu:

  1. Perencanaan

Perencanaan untuk audit operasional sama dengan perencanaan untuk audit atas laporan keuangan historis. Sesuai dengan standar akuntansi keuangan, auditor operasional harus menentukan ruang lingkup penugasan dan mengkomunikasikannya ke unit organisasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Melakukan penugasan dengan benar.
  • Mendapatkan informasi latar belakang mengenai unit organisasi.
  • Memahami sistem pengendalian manajemen sektor publik secara internal.
  • Memutuskan bukti yang memadai untuk diakumulasi.

Perbedaan auditing dan akuntansi yang berkaitan dengan perencanaan audit operasional dan audit keuangan adalahkeragaman yang diciptakan oleh luasnya audit operasional, yang sering membuatnya sulit untuk mengambil keputusan dalam tujuan khusus. Auditor memilih tujuan berdasarkan kriteria yang dikembangkan dalam penugasan, yang bergantung pada kondisi yang ada. Misalnya, tujuan audit operasional atas efektivitas pengendalian internal untuk pengelolaan kas kecil akan sangat berbeda dengan audit operasional untuk efisiensi penelitian dan pengembangan.

Luasnya audit operasional sering membuat penentuan staf menjadi lebih rumit daripada dalam audit keuangan. Hal ini terjadi bukan karena bidang yang berbeda, misalnya pengendalian produksi dan periklanan, tetapi tujuan untuk bidang tersebut sering memerlukan keahlian teknis khusus. Misalnya, auditor mungkin membutuhkan latar belakang teknis untuk mengevaluasi kinerja pada sebuah proyek konstruksi besar.

  1. Akumulasi Bukti dan Evaluasi

Pengendalian internal dan prosedur operasi merupakan bagian penting dari audit operasional, maka biasanya dilakukan dokumentasi, penyelidikan atas klien, prosedur analitis, dan observasi secara ekstensif. Contohnya adalah suatu lembaga yang mengevaluasi keamanan tangga berjalan di sebuah kota. Asumsikan bahwa semua pihak setuju bahwa tujuannya adalah untuk menentukan apakah seorang pengawas membuat pemeriksaan tahunan secara memadai untuk seluruh tangga berjalan di kota tersebut.

Untuk memenuhi tujuan kelengkapan, auditor dapat memeriksa cetak biru bangunan kota dan lokasi tangga berjalan dan menelusurinya ke daftar untuk memastikan bahwa semua tangga berjalan sudah dimasukkan dalam populasi. Pengujian tambahan dilakukan untuk bangunan yang baru dibangun untuk menilai ketepatan waktu atas pembaruan daftar yang berada di pusat.

Dengan asumsi auditor telah menentukan bahwa daftar tersebut lengkap, mereka dapat memilih sampel lokasi tangga berjalan dan mengumpulkan bukti mengenai waktu dan frekuensi inspeksi. Auditor mungkin perlu mempertimbangkan risiko bawaan dengan melakukan pengambilan sampel lebih besar atas tangga berjalan yang usianya lebih tua atau tangga yang sebelumnya cacat keamanannya.

Sponsors Link

Sama seperti auditor keuangan, auditor operasional harus mengumpulkan jenis bukti audit yang memadai untuk dijadikan dasar suatu kesimpulan dalam pengujian. Setelah bukti dikumpulkan, auditor harus memutuskan apakah inspeksi atas masing-masing tangga berjalan di kota dilakukan oleh petugas yang kompeten.

  1. Pelaporan serta Tindak Lanjut

Auditor operasional sering menghabiskan waktu untuk mengkomunikasikan temuan dan rekomendasi audit secara jelas. Pada audit kinerja, saat laporan disusun sesuai persyaratan Buku Kuning, maka komponen tertentu harus disertakan, tetapi bentuk laporan keuangan harus dibebaskan. Tindak lanjut merupakan hal umum dalam audit operasional ketika auditor membuat rekomendasi atas fungsi akuntansi manajemen untuk menentukan apakah terdapat perubahan yang direkomendasikan.

Demikian pembahasan tentang audit operasional terlengkap. Semoga tulisan ini dapat berguna bagi Anda yang mencari informasi mengenai pengertian, tujuan, ruang lingkup, jenis, dan tahap dalam audit operasional.

Sponsors Link
, , , , ,
Oleh :
Kategori : Akuntansi Keuangan